1. SALAM & TANDA SALIB

Selamat malam, Bapak, Ibu, dan teman-teman semua.

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan karena malam ini kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama dalam suasana persaudaraan dan untuk mendengarkan Sabda Tuhan.

Pada pertemuan kita yang ketiga ini, kita akan bersama-sama merenungkan tema:
“Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman”

yang diambil dari Injil Matius 18:15–20.

Sebelum kita memulai pertemuan kita, marilah kita mengawali dengan tanda salib.

[Buat Tanda Salib]

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

2. KATA PENGANTAR (Bagian 1)

Bapak, Ibu, dan teman-teman yang terkasih,

Kalau kita hidup bersama orang lain, baik di keluarga, lingkungan, tempat kerja, maupun dalam komunitas Gereja, tentu kita tidak selalu sependapat. Kadang-kadang kita juga melihat saudara kita melakukan sesuatu yang menurut kita tidak benar.

Nah, biasanya dalam situasi seperti itu ada banyak pilihan:

  • Kita bisa saja diam dan membiarkannya.
  • Kita bisa membicarakannya dengan orang lain di belakang.
  • Atau kita bisa mencoba berbicara langsung dengan orang tersebut.

Tetapi berbicara langsung kepada seseorang mengenai kesalahannya tentu tidak selalu mudah. Kita mungkin takut dia tersinggung, marah, atau hubungan kita menjadi tidak baik.

3. KATA PENGANTAR (Bagian 2)

Dalam bacaan malam ini, Yesus memberikan pengajaran yang sangat konkret mengenai bagaimana kita harus bersikap ketika melihat saudara kita melakukan kesalahan.

Menariknya, Yesus tidak langsung berbicara tentang hukuman. Yesus justru mengajarkan sebuah proses untuk menegur, mendengarkan, dan berusaha mendapatkan kembali saudara kita.

Karena itu, malam ini kita tidak hanya ingin mengetahui apa yang dikatakan Yesus, tetapi juga mencoba melihat diri kita sendiri.

  • Bagaimana selama ini saya memperlakukan saudara saya ketika dia melakukan kesalahan?
  • Apakah saya sudah menegur dengan kasih? Atau justru saya lebih mudah membicarakannya kepada orang lain?

Mari kita bersama-sama membuka hati dan pikiran kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan.

4. DOA PEMBUKA

[Pilih salah satu doa di bawah ini]

[OPSI A: Doa Resmi BKSN]

Allah Bapa yang Mahakasih, Engkau memanggil kami menjadi satu keluarga dalam iman. Saat ini, kami berhimpun di hadirat-Mu...

(lanjutkan baca dari teks buku panduan)

...kini dan sepanjang segala masa. Amin.

[OPSI B: Doa Improvisasi]

Sebelum kita mendengarkan Sabda Tuhan, marilah kita berdoa.

Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur karena pada malam hari ini Engkau mempertemukan kami sebagai satu keluarga dalam iman. Kami mohon, bukalah hati dan pikiran kami agar kami mampu mendengarkan Sabda-Mu dengan sungguh-sungguh.

Ajarlah kami untuk tidak hanya memahami Sabda-Mu, tetapi juga berani melihat diri kami sendiri dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga pertemuan kami malam ini semakin mempererat persaudaraan kami... Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

5. PENGANTAR BACAAN

Sekarang marilah kita bersama-sama mendengarkan Sabda Tuhan dari Injil Matius 18:15–20.

[Bisa dibaca sendiri atau meminta kesediaan salah satu peserta]

18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata..."

18:16 "Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi..."

18:17 "Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat..."

...

18:20 "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

6. SETELAH PEMBACAAN

Demikianlah Sabda Tuhan.

(Terima kasih kepada yang membacakan)


Sekarang kita sudah mendengarkan bagaimana Yesus mengajarkan kita untuk menghadapi saudara yang melakukan kesalahan. Kita akan mencoba memahami bacaan ini sedikit lebih dalam.

Saya akan membacakan beberapa pertanyaan. Kita bisa menjawab dan mendiskusikannya bersama-sama.

Tidak ada jawaban yang perlu kita takutkan salah.

Yang penting adalah kita mencoba melihat apa yang dikatakan oleh teks Kitab Suci dan apa yang ingin disampaikan kepada kita.

7. PENDALAMAN TEKS (1)

PERTANYAAN 1:

"Apa masalah yang hendak diatasi Yesus melalui ajaran-Nya dalam Matius 18:15–20?"

Menurut Bapak, Ibu, dan teman-teman:

  • Sebenarnya persoalan apa yang sedang ingin diselesaikan oleh Yesus?
  • Apa yang bisa terjadi dalam sebuah komunitas kalau ada seseorang yang melakukan kesalahan, tetapi tidak ada yang mau menghadapinya dengan cara yang benar?

[Berikan waktu peserta menjawab. Lalu simpulkan:]

Kesimpulan: Yesus sedang berbicara mengenai bagaimana menjaga persaudaraan ketika terjadi kesalahan. Masalahnya bukan hanya soal “siapa yang salah”, tetapi bagaimana supaya orang tersebut tidak semakin jauh, dan persaudaraan tetap dijaga.

8. PENDALAMAN TEKS (2)

PERTANYAAN 2:

"Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah yang diajarkan Yesus untuk menegur saudara yang berbuat dosa!"

Apa saja tahap yang teman-teman temukan dalam bacaan tadi?

[Biarkan peserta menjawab. Lalu rangkum:]

  1. Tegur seorang diri (empat mata).
  2. Bawa 1-2 orang lain sebagai saksi.
  3. Sampaikan kepada jemaat/komunitas.
  4. Perlakukan sebagai orang yang tidak mengenal Allah (jika menolak).

Ada proses yang bertahap. Menurut teman-teman, mengapa Yesus membuat prosesnya seperti itu?

9. PENDALAMAN TEKS (3)

PERTANYAAN 3:

"Selain langkah menegur, sebutkan 3 pernyataan Yesus selanjutnya dan apa kaitannya dengan langkah sebelumnya?"

Ada pembicaraan mengenai: (1) Mengikat dan melepaskan, (2) Kesepakatan dalam doa, (3) Kehadiran Yesus di tengah 2-3 orang.

Apa hubungan semua ini dengan persoalan persaudaraan?

[Berikan waktu peserta menjawab. Lalu simpulkan:]

Kesimpulan: Penyelesaian persoalan bukan sekadar keputusan manusia. Ada tanggung jawab iman. Ketika komunitas berusaha menyelesaikan masalah dengan sungguh-sungguh dan doa, Tuhan sendiri hadir di tengah-tengah mereka.

10. PENDALAMAN TEKS (4)

PERTANYAAN 4:

"Mengapa Yesus menekankan pendekatan bertahap dan penuh kasih, bukan hukuman?"

Menurut teman-teman, apa yang ingin dicapai Yesus? Apakah supaya dia merasa bersalah? Atau supaya kita membuktikan kita benar?

[Berikan waktu peserta menjawab. Lalu simpulkan:]

Dalam ayat 15 ada kata-kata penting: "Engkau telah mendapatnya kembali."

Tujuan akhirnya bukan untuk mempermalukan, tetapi mendapatkannya kembali. Fokus kita adalah bagaimana dia bisa kembali dan memperbaiki hubungannya dengan Tuhan dan komunitas.

11. TRANSISI SHARING IMAN

Bapak, Ibu, dan teman-teman,

Tadi kita sudah memahami teks Kitab Suci. Sekarang kita masuk ke bagian yang lebih dekat dengan kehidupan kita sendiri, yaitu Sharing Iman.

Kita mencoba bertanya kepada diri kita sendiri:
"Kalau saya berada dalam situasi itu, bagaimana sikap saya?"

ATURAN SHARING:

Mari sharing dengan terbuka. Apa yang disharingkan di sini tidak menjadi bahan pembicaraan di luar. Kita tidak perlu menghakimi pengalaman orang lain. Cukup dengarkan dengan hati.

12. SHARING IMAN (1)

PERTANYAAN SHARING 1:

"Dalam lingkungan Gereja, bagaimana sikap Anda selama ini ketika mengetahui saudara dalam komunitas melakukan perbuatan salah/berdosa?"

  • Apakah kita membiarkannya?
  • Membicarakannya di belakang?
  • Ataukah berusaha menegur dengan kasih?

Silakan siapa yang bersedia terlebih dahulu untuk sharing.

[Berikan waktu. Ucapkan terima kasih setelah ada yang sharing]

13. SHARING IMAN (2 & 3)

PERTANYAAN SHARING 2:

"Bagaimana pengalaman Anda dalam menegur sesama saudara? Apa yang dirasakan? Kesulitan apa yang dihadapi?"

(Mungkin takut menyinggung, atau hubungan jadi renggang)

[Berikan waktu sharing]

PERTANYAAN SHARING 3:

"Apa yang Anda rasakan ketika melihat seseorang yang sebelumnya berbuat salah, kemudian bertobat, berubah, dan justru menjadi pribadi yang semakin baik?"

[Berikan waktu sharing]

14. PENEGUHAN (Bagian 1)

Bapak, Ibu, dan teman-teman yang terkasih,

Dari bacaan dan sharing kita malam ini, ada satu hal kuat yang disampaikan Yesus: Ketika saudara melakukan kesalahan, Yesus tidak mengajarkan kita untuk langsung menghakimi atau mempermalukannya.

Yesus mengajarkan kita untuk mendekatinya. Secara pribadi. Berbicara dari hati ke hati. Ada proses dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bagian paling penting adalah tujuannya: "Engkau telah mendapatnya kembali."

Teguran bukan untuk membuktikan "saya benar". Tujuannya adalah mendapatkan kembali saudara kita.

15. PENEGUHAN (Bagian 2)

Di sisi lain, ini juga berlaku sebaliknya. Kadang kita di posisi menegur, tetapi suatu saat mungkin kita sendiri yang ditegur.

Kalau kita benar-benar hidup sebagai saudara, kita juga perlu memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan.

Mari bawa pulang pertanyaan sederhana ini:

"Ketika saya melihat saudara berbuat salah, apakah saya sungguh ingin menyelamatkannya, atau saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya benar?"

Semoga kita menjadi komunitas yang tidak cepat menghakimi, tetapi berani saling mengingatkan dengan kasih.

16. DOA SPONTAN

Sebelum kita menutup pertemuan ini, saya mengajak kita untuk membawa apa yang sudah kita dengarkan dan sharingkan kepada Tuhan dalam doa.

Kita boleh berdoa secara spontan.

(Mendoakan keluarga, memohon keberanian menegur dengan kasih, atau kerendahan hati saat menerima teguran).

Silakan, bagi yang ingin menyampaikan doa spontan.

[Tunggu beberapa saat untuk memberi waktu peserta berdoa]


Terima kasih. Sekarang, marilah kita menyatukan doa-doa kita dengan doa yang diajarkan oleh Tuhan kita:

Bapa kami yang ada di surga... (doa bersama)

17. DOA PENUTUP

Bapa yang Mahakasih,

Terima kasih karena malam ini Engkau telah mempertemukan kami dan mengingatkan kami bahwa hidup sebagai saudara dalam iman tidak selalu bebas dari masalah.

Tuhan, ajarlah kami untuk berani menegur dengan kasih, bukan dengan kemarahan. Ajarlah kami untuk berbicara langsung dengan niat yang baik, bukan membicarakannya di belakang.

Dan ketika kami sendiri ditegur, berikanlah kami kerendahan hati untuk mendengarkan dan memperbaiki diri.

Semoga lingkungan kami menjadi komunitas yang saling mendukung dan membantu untuk semakin dekat kepada-Mu.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

[Buat Tanda Salib]

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

18. SALAM PENUTUP

Bapak, Ibu, dan teman-teman, terima kasih atas kebersamaan dan sharing kita yang hangat pada malam ini.

Semoga apa yang kita dengarkan bisa sungguh-sungguh kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari di keluarga dan komunitas kita.

Semoga kita semakin berani mengingatkan dalam kasih dan tetap rendah hati ketika diingatkan.

Tuhan memberkati kita semua.

Selamat malam, hati-hati di jalan, dan sampai bertemu kembali pada pertemuan berikutnya!

1 / 18